Jumat, 12 April 2013


WAKAPOLRI COBA ALAT KOMUNIKASI SENKOM

Senkomjaya21.blogspot.com | Jakarta : Kecepatan  alat komunikasi yang digunakan Senkom Mitra Polri dalam menyampaikan informasi dari seluruh penjuru tanah air kepada aparat terkait di pusat, menarik perhatian Wakapolri Komjend Nanan Soekarna untuk mencobanya setelah penutupan diklat Kamtibmas dan Telematika di Gedung Minhajurrosyidin Lubang Buaya Jakarta Timur (11/3/13).

Di hadapan 500 peserta diklat telematika Nanan Soekarna melakukan komunikasi dengan Misyadi anggota Senkom Mitra Polri di Patumbak Medan Amplas Sumatera Utara mempergunakan HT yang tersambung se nusantara.

Silahkan terus koordinasi dengan kami dalam menjaga kamtibmas di wilayah masing-masing dan selamat bertugas, kata 
Nanan dalam komunikasi tersebut.


Komunikasi yang dilakukan Wakapolri langsung didengarkan dan direspon oleh anggota Senkom Mitra Polri di seluruh penjuru nusantara dengan mempergunakan HT.

Peralatan seperti inilah yang kami butuhkan, agar setiap tanda-tanda adanya kejadian adanya gangguan kamtibmas dapat segera disampaikan, tambahnya.

Alat komunikasi Senkom Mitra Polri terdiri dari analog dan digital, dengan swadaya memanfaatkan alat komunikasi masa lalu seperti HT dan Rig dimodifikasi untuk dimaksimalkan penggunaannya, digabung dengan teknologi masa kini sehingga bisa dipakai komunikasi jarak jauh seperti semboyannya menembus jarak tanpa batas.  (Yusuf)

SENKOM GELAR DIKLATNAS KAMTIBMAS DAN TELEMATIKA



Jakarta - Bertempat di kawasan Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta Timur, Selasa (9/4/2013) Sentra Komunikasi Mitra Polri atau disingkat SENKOM, melaksanakan upacara Pembukaan DIKLAT KAMTIBMAS DAN TELEMATIKA ANGKATAN IV TAHUN 2013, dihadiri sejumlah pejabat lembaga Negara seperti dari Kementerian, sejumlah pejabat Kepolisian dan TNI, serta tokoh berbagai ormas dan organisasi kepemudaan. Peserta diklat sebanyak 1500 peserta berasal dari perwakilan seluruh Indonesia, akan mengikuti kegiatan selama tiga hari kedepan, 9-11 April 2013. Disamping mengikuti kegiatan diklat yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan personil (puanpers) anggota SENKOM, juga dilakukan Rakornas dengan Mabes Polri untuk kembali mengevaluasi berbagai peran serta SENKOM dalam kegiatan Kamtibmas serta sosialisasi program tahun 2013 dan memperkenalkan kepengurusan nasional, serta propinsi.

Ketua Umum Senkom Mitra Polri, H.M Sirot, SH, SIP mengatakan, tujuan diadakan diklat ini selain untuk meningkatkan kemampuan personil SENKOM juga untuk mengokohkan kembali semangat serta komitmen dalam peran serta sebagai warga negara memperkokoh persatuan dan kesatuan. Sebagaimana diketahui dewasa ini semakin banyak dan semakin tinggi ancaman terhadap persatuan dan kesatuan ditengah masyarakat, yang ini jelas akan melemahkan sendi-sendi kita dalam berbangsa dan bernegara. "Untuk itu, kemampuan personil masyarakat yang tergabung dalam KUATCAD (kekuatan cadangan) harus ditingkatkan sehingga benar-benar menjadi RATIH (Rakyat Terlatih, red) yang siap berperan dalam menjaga ketertiban dalam hidup bermasyarakat. Apalagi ancaman itu juga makin canggih, tak hanya fisik, melainkan juga ideologi yang mengancam landasan kita dalam berbangsa dan bernegara,

Demikian halnya kejahatan Cyber, dengan kemampuan di bidang telematika personil senkom juga dapat membantu pemerintah dalam melacak dan melakukan intercept terhadap pelaku cybercrime," terang Sirot. "Pelatihan ini juga menjadi semacam ujian bagi personil SENKOM mengenai komitmen kami dalam peran aktif terhadap negara. Mereka datang dari seluruh Indonesia membiayai dirinya sendiri sehingga diklat ini bisa berlangsung. Hal mana jarang terjadi sebuah organisasi kemasyarakatan yang kemandiriannya seperti SENKOM ini," jelas Sirot. Dalam rekrutmen, seorang calon anggota SENKOM harus memiliki penghasilan tetap baik dengan bekerja atau memiliki usaha sendiri. Dari sinilah kemandirian itu terbentuk karena anggota bisa membiayai dirinya sendiri dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan di tingkat nasional maupun di daerah masing-masing. Disamping kemandirian, seleksi masuk SENKOM juga tergolong ketat, karena seorang calon anggota harus menjalani test kecakapan hingga dinyatakan lulus.

Namun yang biasanya dianggap sulit justru komitmen moral ketika seorang calon anggota harus dapat membuktikan dirinya "bersih" dari Moh Limo atau tidak melakukan lima hal. "Moh Limo ini falsafah yang dikenalkan oleh Sunan Ampel, salah satu Walisongo, memang tidak ada dalam AD/ART namun harus lolos dalam fit and proper test calon anggota. Moh Limo ini mencakup "5 tidak": Tidak Madat atau narkoba (termasuk tidak merokok); Tidak Madon (main perempuan), Tidak Minum Miras, Tidak Main (judi), Tidak Maling (kriminil). Sebab itulah pola rekrutmen pun selain dilakukan dengan sistem rekomendasi," ungkap Ketum Senkom menjelaskan. [rachmat/mahar/generasiindonesia.com]